Lihatlah-upaya-dunia-pendidikan-Indonesia-untuk-mempersiapkan-sumber-daya-manusia-untuk-pekerjaan-baru-di-masa-depan

Lihatlah upaya dunia pendidikan Indonesia untuk mempersiapkan sumber daya manusia untuk pekerjaan baru di masa depan

Kehadiran Industri 4.0 serta perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat memberikan peluang sekaligus tantangan bagi perusahaan dan karyawan.

Di satu sisi, Industri 4.0 menciptakan kebutuhan akan jutaan lapangan kerja baru. Namun pada saat yang sama juga akan mengubah peta pekerjaan dan kompetensi, sehingga banyak pekerjaan yang terancam hilang dan tergantikan.

Hasil penelitian berjudul “Future of Jobs Report 2020”, yang diterbitkan oleh World Economic Forum

, menunjukkan bahwa pergeseran dan perubahan antara manusia, mesin, dan algoritme akan mengakibatkan 85 juta pekerjaan hilang di seluruh dunia selama lima tahun ke depan.

Sementara itu, pertumbuhan hingga 97 juta pekerjaan baru diperkirakan, yang akan lebih beradaptasi dengan fenomena ini.

Direktur Human Capital Deloitte Consulting South East Asia Andreati Yohannes mengatakan, ada beberapa jenis gangguan yang akan mempengaruhi munculnya profesi baru di masa depan. Pertama, penggunaan teknologi dan digitalisasi di hampir semua bidang kehidupan manusia yang menyebabkan banjirnya data.

“Ini adalah enabler untuk teknologi Industri 4.0. Dengan teknologi pembelajaran mesin

, kecerdasan buatan, robotika, dan otomatisasi, semua ini akan mengubah masa depan pasar tenaga kerja,” kata Andreati dalam webinar Kompas Talks bersama Direktorat Kemitraan dan Keberpihakan Dunia Usaha dan Industri (Mitra DUDI) di Materi “Siapkan SDM, Hadapi Pekerjaan Baru Masa Depan”, Selasa (8 Desember 2020).

Kemudian jenis pekerjaan dan keterampilan berubah. Andreati menjelaskan, hard skill yang dimiliki karyawan saat ini belum tentu relevan dalam 2,5-5 tahun ke depan jika tidak terus ditingkatkan.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Selain itu, kata Andreati, tenaga kerja ke depan akan sangat beragam, mulai dari karyawan muda hingga tua. Selain itu, mereka bersaing tidak hanya dengan rekan kerja, tetapi juga dengan robot cerdas.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim

dalam sambutannya mengatakan bahwa perkembangan teknologi berupa industri digital, otomasi, robotisasi, dan resesi global merupakan kombinasi kuat yang akan mengubah lanskap pekerjaan di masa depan.

Oleh karena itu, menurut Mendikbud, sangat penting menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang adaptif yang termotivasi untuk belajar seumur hidup (Long Life Learning).

“Pertumbuhan lapangan kerja baru juga membutuhkan keterampilan dan kemampuan baru. Kompetensi yang ada erat kaitannya dengan adaptasi. Oleh karena itu, adaptasi dan motivasi untuk belajar sepanjang hayat sangat penting, ”kata Nadiem.

Hal ini, menurut Nadiem, merupakan tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan untuk mempersiapkan sumber daya manusia masa depan yang siap menyambut perubahan tersebut.

Menurutnya, dunia pendidikan Indonesia perlu adaptable dan fleksibel agar peserta didik dapat beradaptasi dengan perubahan di masa depan. Jika tidak, siswa akan membenamkan diri dalam semua perubahan ini.

“Dunia pendidikan, khususnya pelatihan vokasi, perlu segera dilakukan terobosan-terobosan dalam mempersiapkan peserta didik. Penguasaan technical skill atau hard skill dan soft skill diperlukan sebagai bagian dari adaptasi dan pengenalan teknologi,” imbuhnya.

Keterlibatan industri

Menyikapi hal tersebut, kata Direktur Jenderal Pendidikan dan Pelatihan Vokasi Wikan Sakarinto, Pendidikan dan Pelatihan Vokasi di Indonesia difokuskan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten, unggul dan terampil, serta yang menjawab kebutuhan dan perubahan dunia industri.

Namun, menurut Wikan, untuk bisa menghasilkan lulusan yang kompeten, industri harus dilibatkan dalam proses pembelajaran. Diperlukan kerjasama dengan industri, mulai dari perumusan kurikulum, pelatihan guru dan dosen, desain sertifikat kompetensi, desain program magang, partisipasi dalam penelitian terkait proyek dan penerimaan lulusan profesional.

“Namun, detail pelaksanaannya belum tepat. Link and Match hanya diartikan sebagai penandatangan kerja sama. Padahal, lulusannya mengecewakan industri,” kata Wikan pada kesempatan yang sama.

Oleh karena itu, menurut Wikan, Mitras DUDI telah mengembangkan dan mencapai beberapa terobosan di bidang pelatihan vokasi. Misalnya, semua sekolah kejuruan, sekolah kejuruan dan lembaga studi dan pelatihan wajib memiliki link and match yang lengkap. Kerjasama dengan industri tidak hanya dalam bentuk kesepakatan.

Tentang itu h

LIHAT JUGA :

indonesiahm2021.id
unesa.id
unimedia.ac.id
politeknikimigrasi.ac.id
stikessarimulia.ac.id
ptsemenkupang.co.id

Leave a Comment