Inisiasi-Kampus-Mandiri-Energi-SUN-Energy-bidik-15-MWp-energi-bersih-di-institusi-pendidikan

Inisiasi “Kampus Mandiri Energi”, SUN Energy bidik 15 MWp energi bersih di institusi pendidikan

Topik energi baru dan terbarukan menjadi topik yang tidak terpisahkan dalam implementasi tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs atau Sustainable Development Goals). Institusi pendidikan khususnya perguruan tinggi berperan penting dalam hal ini.

“Dalam program Kampus Merdeka, perguruan tinggi juga ditantang untuk menggunakan energi baru dan terbarukan. Kampus Merdeka Energi berperan penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan,” kata Dion Jefferson, Chief Commercial Officer PT Surya Utama Nuansa (SUN Energy).

Peran penting perguruan tinggi dalam membangun ekosistem energi bersih ini disampaikan Dion

dalam konferensi SUN Energy secara online pada Jumat, 28 Mei 2021.

Selain itu, Dion mengatakan saat ini banyak perguruan tinggi yang tertarik bekerja sama dengan SUN Energy untuk mengadaptasi PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan menjadikan PLTS ini sebagai laboratorium kampus juga.
Target 15 MWp energi bersih

Dalam kesempatan itu, Dion juga mengumumkan bahwa SUN Energy telah mendukung sejumlah perguruan tinggi dalam menerapkan energi bersih di lingkungan kampusnya.

“Tahun 2020 ITB dan UNDIP akan bekerja sama dengan SUN Energy untuk menggunakan PLTS

untuk melistriki gedung perkuliahan mereka,” kata Dion.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Baca juga: Collaborative Learning Kampus Merdeka, Universitas Moestopo dan ISBI Bandung

Di tahun yang sama, Dion mengatakan pihaknya telah membantu Institut Teknologi Sumatera (Itera) Lampung membangun PLTS di atas lahan seluas kurang lebih 1 hektar dengan kapasitas energi 1 MW (megawatt).

“Ini PLTS terbesar di Indonesia yang ada di sektor pendidikan. PLTS ini tidak hanya digunakan sebagai tenaga listrik untuk gedung dan kegiatan perkuliahan, tetapi juga digunakan untuk laboratorium PLTS,” kata Dion.

Dikatakannya, pusat penelitian energi surya ini dibangun sejalan dengan strategi Itera yang akan memasukkan PLTS sebagai program kursus untuk menghasilkan lulusan yang siap mengembangkan industri PLTS komunal.

Untuk tahun 2021, lanjut Dion, SUN Energy menargetkan untuk membangun 15 MWp bekerjasama dengan sedikitnya 15-16 institusi pendidikan dengan cakupan area sekitar 15 hektar.

PLTS yang dibangun SUN Energy di bidang pendidikan, salah satunya di Universitas Diponegoro

(Undip), Semarang, DOK Jawa Tengah. PLTS SUN ENERGY, dibangun oleh SUN Energy di kawasan pendidikan antara lain Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jawa Tengah.

“Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang akan membangun 500 KWp untuk laboratorium dan gedung perkuliahan. Saat ini pembangunannya sedang berjalan dan bisa digunakan untuk kebutuhan ITN Malang hingga akhir tahun 2021,” jelasnya.

“Setelah itu, beberapa universitas melakukan diskusi serius dengan situs kami, antara lain 1 universitas di Kalimantan, 2 universitas di Jawa Timur, 1 universitas di Bali dan 2 universitas di Jakarta dan beberapa lokasi lainnya. ” dia menambahkan.
Dari laboratorium ke kurikulum

Baca juga: Kemendikbud, Ristek Alokasikan Rp 270 Miliar untuk Program Kampus Vokasi

“SUN Energy sangat mendukung perguruan tinggi, universitas, dan lembaga pendidikan lainnya yang bergairah dengan fasilitas PLTS untuk menghasilkan energi bersih dan ramah lingkungan di wilayahnya,” kata Dion.

Pada kesempatan yang sama, Dion mengumumkan bahwa dukungan SUN Energy tidak terbatas pada pembangunan PLTS untuk menyediakan listrik universitas.

Dion menambahkan, “Untuk meningkatkan kesadaran penggunaan energi baru dan terbarukan, SUN Energy mengadakan diskusi virtual bulanan dengan institusi pendidikan tentang penggunaan sinar matahari sebagai sumber energi.”

Selain itu, kata Dion, pihaknya juga berkomitmen membantu perguruan tinggi memperoleh PLTS sebagai laboratorium kampus, serta membantu pengadaan kurikulum.

“Sun Energy membangun PLTS ini di beberapa perguruan tinggi tidak hanya untuk ketenagalistrikan tetapi juga sebagai bahan kuliah untuk mendukung ekosistem khususnya dalam penyiapan SDM PLTS,” ujar Dion.

Hal ini, kata Dion, sejalan dengan visi Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) yang bertujuan untuk mengembangkan sektor hulu (PLTS) untuk mencapai bauran EBT sebesar 23 persen pada tahun 2025.

LIHAT JUGA :

pcpm35rekrutmenbi.id
indi4.id
connectindonesia.id

Leave a Comment